Tentu diantara sebagian besar sahabat pembaca sudah pernah atau bahkan sering mendengar berita kecelakaan lalu lintas seorang pengendara tertabrak atau menabrak sesama penggguna jalan ketika sedang keluar dari gang menunju jalan besar. Pola kecelakaan yang paling sering terjadi adalah pengendara yang keluar dari gang tertabrak oleh pengendara yang melintas dijalan besar. Pola kedua yang sering terjadi, pengendara dijalan besar menabrak sesama pengendara dijalan besar karena menghindar dari pengendara yang keluar dari gang. Belum ada data yang secara khusus merekam berapa jumlah kasus untuk typical kecelakaan ini. Tapi dari pencermatan sekilas melalui sharing diberbagai forum atau bahkan hanya sebatas obrolan informal pada berbagai kesempatan, sebagian besar mengiyakan bahwa kejadian kecelakaan lalu lintas “keluar gang” sangat sering terdengar. Bahkan ada yang kemudian berakibat fatal. Itu yang berakibat menjadi sebuah kecelakaan. Yang nyaris terjadi kecelakaan karena hal ini tidak terhitung jumlahnya.
Kecelakaan (akibat) lalu lintas itu bisa menimpa siapa saja. Bahkan bukan pengguna jalan sekalipun. Pertanyaan yang paling mendasar bisakah kecelakaan lalu lintas diminimalisir ? Atau memang sesuatu yang harus terjadi ? Berdasarkan sebuah penelitian, bahwa penyebab dominan (70 %) dari kecelakaan lalu lintas adalah faktor human eror, baru disusul penyebab yang lain seperti faktor jalan dan perlengkapannya, alam dan lain-lain. Berkait dengan faktor human eror tersebut jika ditiilik lebih rinci lagi karena persoalan kelengahan, kelelahan, kecerobohan, kurang trampil, melebihi batas kecepatan yang dijinkan dan lain-lain.
Dari sedikit informasi tersebut diatas, dapat ditarik sebuah pemahaman dasar bahwa sebenarnya pada sebagian besar kasus kecelakaan lalu lintas dapat diminimalisir. Karena “kandungan utama” human eror adalah bagaimana cara berkendara. Berkendara adalah persoalan situasi. Bagaimana kondisi jalan, bagaimana kepadatan jalan, bagaimana kondisi kendaraan, bagaimana kondisi pengendara, bagaimana kemapuan pengedara dan masih banyak bagaimana-bagaimana yang lain sesuai dengan situasi saat itu. Bukan hanya persoalan ketrampilan yang bersifat hard skill tapi juga soft skill yaitu pengetahuan, akal, budi, perasaan bahkan empati.
Sepertinya rumit amat berkendara. Sebenarnya tidak juga. Karena ketika segala sesuatu ( hard skill dan soft skill) sudah menyatu dengan diri, maka semuanya akan “keluar” secara otomatis. Menyatunya ketrampilan dengan diri seseorang yang terekspresikan dalam sebuah tindakan (dalam hal ini berkendara) adalah persoalan kematangan. Orang yang matang, dalam pergaulan keseharian akan menyejukkan “kanan kirinya”. Sebenarnya pengendara yang berkendara dijalanan juga demikian. Pengendara yang matang jangankan membahayakan apalagi mencelakakan, tapi justru akan membangun kenyamanan dan kelancaran sesama pengguna jalan.
Berkait dengan kecelakaan yang berpangkal dari pengendara keluar dari gang, tentu diantara kita sering melihat pengendara yang keluar dari gang tanpa mengurangi kecepatan dan juga tidak tengok kanan kiri langsung nyelonong masuk jalan besar. Seolah hanya dia sendiri pengguna jalan tersebut, sehingga bebas semaunya sendiri berkendara. Pada hal sebagai mana kita tau, bahwa typical pada kebanyakan gang yang terhubung dengan jalan raya tidak sepenuhnya bebas pandang, entah terhalang pohon perindang, pagar rumah atau bangunan lain. Sehingga cara “keluar dari gang” tanpa tengak tengok kanan kiri, sangat berpotensi menimbulkan kecelakaan. Karena antara pengendara yang dari gang maupun pengguna jalan yang berada di jalan raya saling tidak melihat. OK….pada saat tertentu bisa jadi, di gang itu hanya pengendara itu yang sedang melintas. Tapi siapa yang dapat menjamin dilintasan jalan besarnya, bahwa sedang tidak ada pengendara yang sedang melintas.
Berkait dengan hal tersebut untuk tatacara berlalu lintas pada koridor ini (baca : keluar dari gang), demi keselamatan dan kenyamanan bersama, pengendara yang keluar dari gang menuju jalan raya wajib berhenti, tengok kanan kiri atau setidaknya mengurangi kecepatan sambil memastikan situasi aman untuk “bergabung” dijalan raya bersama pengguna jalan yang lain, menuju destinasi kita masing-masing. Keluar dari gang menuju jalan raya “ritual” tengak tengok kanan kiri itu menjadi menu wajib. Tidak bisa tidak. Karena dalam berkendara tidak boleh menggunakan rumus kira-kira selamat tapi harus dengan prinsip pasti selamat. Tengok kanan kiri untuk memastikan situasi aman atau tidak.
Berkait dengan tema permenungan ini, karena masih tingginya fenomena pengendara yang keluar gang dengan cara tidak aman, maka sebaiknya bagi pengendara di jalan raya ketika situasi memungkinkan, untuk tidak mengambil lajur terlalu menepi, untuk antisipasi jika ada pengendara nyelonong dari dalam gang masih ada “ruangan jalan” untuk mengontrol kecepatan dan kemudi. Dan sekali lagi bagi pengendara yang keluar dari gang menuju jalan raya wajib mengontrol kecepatan sambil memastikan situasi aman untuk mengaspal dijalan raya.
Sahabat jalan raya, mari kita berkendara dengan segenap etika agar bisa sampai tujuan dengan selamat, aman dan nyaman. Lebih baik sedikit terlambat, dari pada tidak pernah sampai ke tujuan sama sekali.
(L. Bowo P)